
Alkisah, Seorang raja yang zalim berkenan memanggil seorang sufi ke istananya untuk memberi nasihat. Ketika sufi itu datang, Raja Zalim berkata, "Berikan aku nasihat. Amal apa yang paling utama untuk aku lakukan sebagai bekalku ke akhirat nanti?"
Sang sufi menjawab, "Amal terbaik untuk baginda adalah tidur." Raja itu keheranan, "Mengapa?" "Karena ketika tidur," jawab sufi itu, "baginda berhenti menzalimi rakyat. Ketika baginda tidur, rakyat dapat beristirahat dari kezaliman.
Beristirahatlah dari perbuatan yang merugikan orang lain dengan tidur. Satu saran yang sederhana namun mengena. Bukankah segala macam persoalan hidup ini muncul sewaktu manusia terjaga? Tidaklah mungkin, misalnya, seorang debt collector kartu kredit mendatangi rumah Anda sambil tertidur. Kalau Anda yang tertidur saat sang utusan penerbit kartu tersebut datang, ya..tentu lain ceritanya. Alih-alih, mungkin dia akan menyatroni rumah Anda seharian atau malah masuk ke dalam rumah dan membangunkan Anda!
Konon, lingkungan pekerjaan kantor, adalah tempat dimana haram hukumnya untuk tertidur. ” Kalau mau tidur bukan di sini tempatnya, tapi di rumah!” Jika mendapat teguran keras seperti itu, Anda haruslah terima dengan lapang dada meskipun Anda tidak sengaja tertidur dan mempunyai bermacam alasan untuk itu. “Pekerjaan saya kemarin banyak. Saya pulang malam dari kantor dan masih melanjutkan pekerjaan di rumah sampai menjelang subuh. Apa salahnya kalau saya tertidur sebentar? Tokh, hari ini pekerjaan saya sudah beres semuanya”
Ya..ya...Anda tidaklah salah. Yang salah adalah sejawat atau atasan yang telah menegur Anda karena tidak sengaja tertidur. Padahal jika Anda tidak tertidur justru akan melorotkan produktifitas Anda di kantor. Lho kok bisa? Sebuah penelitian di Health Economics Research di Perancis membuktikan bahwa para pekerja yang kesulitan untuk mendapatkan waktu tidur cukup kehilangan rata-rata 5,8 hari kerja setiap tahun, dibanding dengan mereka yang tidur secara teratur. Nah itu baru dampak kesehatan terhadap produktifitas Anda. Karena kurang tidur, Anda pun bisa mendapatkan surat peringatan dari perusahaan yang akan mempengaruhi kondikte Anda, disamping dampak sosial berupa sas-sus tidak sedap dari rekan sekerja. Bayangkan, prilaku sangat manusiawi tersebut, menjadi bahan gunjingan rekan-rekan kerja Anda dengan dibumbui cerita-cerita seperti, “Waktu ketahuan bos, dia lagi asik tidur sambil ngiler!” Parah kan?!
Gunjingan atau gossip, secara ilmu komunikasi, adalah sebuah cara penyebaran berita dari mulut ke mulut dan informasi yang disampaikan berupa rumor atau informasi rahasia/pribadi( saya tahu karena secara kuliah saya pernah belajar komunikasi walaupun secara nilai kurang memuaskan karena secara jurusan bukan fak saya dan secara…halah, udah akh secara-secaraanya). Kalau menurut definisi di atas, gossip mejadi wahana yang sangat efektif jika dipakai untuk menghancurkan pesaing Anda. Ibaratnya sebuah bola salju, sebuah gossip akan menggelinding dan makin membesar jika tidak diredam. Dan di dunia kerja, para gossiper, selalu mencari-cari informasi yang layak jual untuk menaikan perhatian atasan kepada dirinya atau paling tidak melorotkan citra rekan kerjanya. Padahal dunia kerja adalah tempat dimana peran dan tanggungjawab setiap individu sangat jelas dan tertulis secara resmi(malah dibubuhi materai Rp6000,- ).
Peran dan tanggungjawab karyawan, atau biasa disebut jobdescription, merujuk pada tugas-tugas keseharian karyawan di tempat kerja yang harus dilakukan dan untuk itulah upah atau bayaran akan diteima setiap bulannya. Tentu setiap karyawan akan memiliki beban kerja yang berbeda-beda, sesuai dengan kesepakatan dan upah yang akan diterimanya. Diferensiasi ini adalah sebuah keniscayaan. Namun, terkadang diferensiasi menimbulkan kecemburuan. Di sinilah kemudian wahana gossip menjadi alat yang kerap kali digunakan untuk mengungkapkan kekecewaan yang tidak berdasar karena setiap pekerja seharusnya sudah menyetujui kontrak kerjanya masing-masing.
Jika seorang staf administrasi yang setiap harinya berhadapan dengan berkas pekerjaan yang bertumpuk-tumpuk, apakah wajar menyebarkan gossip ke atasannya bahwa petugas sekuriti yang baru sebagai pemalas, karena terlihat hanya duduk-duduk saja di lobi kantor? Mungkin saja benar bahwa petugas sekuriti tersebut pemalas tetapi mungkin juga salah. Namun yang pasti bahwa karyawan yang menyebarkan gossip tersebut terlalu sedikit pekerjaanya sehingga masih sempat untuk mengamati pekerjaan karyawan lainnya. Benar kan?
Prilaku bergossip di tempat kerja jika dibiarkan bisa menjadi kronis dan patologis sifatnya. Prilaku ini akan mengurangi work hour yang seharusnya dimanfaatkan secara efektif, malah menyebabkan pekerjaan tidak selesai dan menumpuk lagi sehingga harus diselesaikan di luar hari kerja. Artinya perusahaan harus mengeluaran biaya ekstra untuk over time yang seharusnya tidak terjadi karena prilaku bergossip yang patologis tersebut. Jadi, lebih baik karyawan yang tertidur di jam kerja tapi menyelesaikan tugas-tugasnya daripada mereka yang selalu terlihat sibuk namun tidak menyelesaikan tugasnya diwaktu kerja.
Whd
April 04 2010

